[REVIEW] Priceless Moment - Prisca Primasari

Thursday, October 30, 2014

Bukankah seperti itulah hidup...? Bertemu, membuat kenangan, berpisah, lalu melepaskan? (hal. 293)

Judul: Priceless Moment
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 296 halaman
Rating: ★★★★★

---

Ditinggal pergi oleh pasangan yang dicintai tentu sangatlah menyakitkan, belum lagi kalau ditiggal pergi untuk selamanya dan ia tak akan pernah kembali. Begitupun halnya yang dirasakan Yanuar Adhyaksa, seorang suami yang ditinggalkan Esther Ariana—istrinya—untuk selama-lamanya. Ia bersama dua buah hatinya, Hafsha dan Feru harus berjuang melalui hidup tanpa seorang istri dan ibu bagi kedua anaknya di sampingnya.

Ada hal yang disesalkan Yanuar ketika ditinggal pergi Esther, ia menyesal karena dulu waktunya lebih banyak untuk mengurusi pekerjaannya sebagai seorang manajer di Ebony & Ivory. Kini, setelah Esther tiada, ia baru menyadari akan keberadaan anak-anaknya yang ternyata lebih membutuhkannya.

Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharga hal-hal yang mereka miliki...? (hal. 151)
Pekerjaan menuntut Yanuar untuk selalu siap kapan saja, tak jarang harus mengorbankan waktunya bersama Hafsha dan Feru. Namun, sepeninggal Esther, lambat-laun Yanuar mulai mengurangi aktivitas kerjanya dan berusaha untuk pulang dengan tepat waktu. Tak jarang, Wira—adik Yanuar—untuk terus mengingatkannya bahwa ia tetaplah seorang ayah.

“Makin lama kita makin tua, Yan. Makin merasa kesepian. Anak-anakmu akan dewasa dan suatu saat akan ninggalin kamu. Jadi, habiskan waktu sebanyak mungkin dengan mereka selagi bisa.” (hal. 91)
Dari E&I, Yanuar bertemu dengan Lieselotte Larasati, seseorang yang baru saja direkrut CEO E&I untuk mendesain karya baru yang akan ditampilkan dalam pameran mendatang di perusahaannya itu. Lotte punya kepribadian yang selfish dan lebih suka melakukannya semuanya sendiri, tentu ini tidak terjadi dengan begitu saja, ada alasan mengapa Lotte bisa berubah demikian.

“... Kamu punya wibawa, ketegasan, kemampuan. Tapi, tanpa komunikasi, semua itu tidak ada artinya.” (hal. 85)
Walaupun cenderung bersikap egois terhadap rekan kerjanya, dengan mudahnya Lotte akrab dengan kedua anak Yanuar. Beberapa kali, Yanuar merasakan hal aneh ketika bertemu dengan Lotte. Benarkah ia merasa jatuh cinta lagi terhadap perempuan? Bagaimana kenangannya bersama Esther setelah ia tiada? Akankah sosok Lotte menggantikan posisi Esther sebagai Mama dari Hafsha dan Feru? Baca selengkapnya di Priceless Moment.

Orang-orang toh datang dan pergi, sering kali akibat kejenuhan atau mempunyai mimpi yang tidak bisa mereka capai hanya dengan duduk di kubikel setiap hari. (hal. 181)
***

Priceless. Benar-benar priceless dan menakjubkan. Bukan saja tentang kisah cinta antar tokoh, kehadiran suasana kasih sayang dari ayah ke anak membuat buku ini menjadi benar-benar manis dan sweet. Once again, Kak Prisca bisa membuat aku hanyut dalam ceritanya.

Aku memang tidak pernah bisa menjadi seorang suami ataupun ayah, dan tidak akan pernah bisa. Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak. Ya, kisah Yanuar ini betapa mengingatkan kita bahwa ternyata kita tidak bisa menganggap remeh perjuangan seorang ayah. Walaupun perjuangan ibu tentu lebih besar, tapi kalau tanpa ayah, kita tak akan berada di sini bukan?

Setelah kematian Esther karena kecelakaan, Yanuar seolah ditampar dan baru sadar akan siapa dirinya sebenarnya. Kadang, kita memang butuh orang lain dan sedikit mengorbankan sesuatu untuk menyadari siapa kita sebenarnya. Dan begitulah, ia baru memahami semuanya setelah Esther tiada. Bagaimana jadinya kalau bukan seperti ini, tentu buku ini juga nggak pernah ada.

Pilihan pasti selalu ada, bagaimana menentukannya kembali pada prinsip masing-masing. Yanuar yang masih menyayangi istrinya pun tidak begitu saja luluh pada cinta yang lewat begitu saja. Kadang, ia masih tidak yakin akan perasaannya.

Jangan selalu bergantung kepada orang lain. Manusia begitu rapuh. Tak selalu ada yang bersedia membantumu. (hal. 23)

“Benar. Jangan remehkan kemungkinan, sekalipun perbandingannya satu berbanding seribu.” (hal. 103)

Pintu hati manusia bagaikan piñata, yang begitu diketuk dan terbuka lebar-lebar, darinya muncul pernak-pernik manis layaknya permen beraneka rasa. (hal. 157)

“Selama masih mempunyai kenangan, saya tidak akan kesepian,” (hal. 239)

“Banyak orang yang merasa cukup memiliki kenangan. Menurut saya, itu bodoh. Kenangan cuma flesh and blood, nggak bisa diapa-apain. Manusia butuh berwujud lagi.” (hal. 239)

by.asysyifaahs(◕‿◕✿)

4 comments:

  1. "Jangan selalu bergantung kepada orang lain. Manusia begitu rapuh. Tak selalu ada yang bersedia membantumu." Setuju sama yang satu ini :')

    ReplyDelete
  2. saya nangis baca buku ini, cmn belum sempet nulis reviewnya :D

    ReplyDelete

Review di a, Greedy Bibliophile adalah pendapat suka-suka yang sifatnya subjektif dari si empunya blog. Aku berusaha jujur, karena barang siapa jujur sesungguhnya dia masih hidup.

Aku nggak pernah memaksa kamu untuk setuju dengan pendapatku sendiri. Jangan sebel, jangan kesel, kecuali kamu mau itu menjadi beban besar yang berat ditanggung.

Boleh komentar, boleh curhat, boleh baper, tapi jangan promosi jualan obat atau agen judi bola. Tulis dengan bahasa manusia yang sopan dan mudah dimengerti ya.

Terima kasih sudah berkunjung, semoga ada cerita yang bermanfaat, jangan lupa kuenya boleh dibawa. Asal tulisan aku jangan dicomot seenak udelmu.

tertanda,

yang punya cerita

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs